<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136</id><updated>2011-05-04T07:25:22.813-07:00</updated><category term='Materi Iklan : Memprihatinkan...'/><category term='CERPEN'/><category term='novel baru'/><category term='Cara Kaya Dengan Menulis'/><title type='text'>SAATNYA KITA SALING BERBAGI</title><subtitle type='html'>Inilah tempat kita berbagi dengan sesama, dimulai dari hal terkecil yang kita bisa. Saya suguhkan cerita-cerita fiksi dan non-fiksi untuk mempertautkan tujuan kita : Berbagai dengan Sesama ! Silakan kirim naskah, komentar atau curahan hati anda di sini !</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136.post-7956177459355947799</id><published>2011-02-08T19:24:00.000-08:00</published><updated>2011-02-08T20:23:16.208-08:00</updated><title type='text'>JUAL SANTAI UNTUK PEMAKAI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWUfw9MiI/AAAAAAAAACs/yucP0hB1aIY/s1600/DSC03446.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWUfw9MiI/AAAAAAAAACs/yucP0hB1aIY/s320/DSC03446.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571540230390755874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWUI3wKjI/AAAAAAAAACk/SWtTtlb-D-8/s1600/DSC03451.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWUI3wKjI/AAAAAAAAACk/SWtTtlb-D-8/s320/DSC03451.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571540224245246514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWTwgv3BI/AAAAAAAAACc/xDcptACp6Uw/s1600/DSC03447.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWTwgv3BI/AAAAAAAAACc/xDcptACp6Uw/s320/DSC03447.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571540217706306578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWTh0izAI/AAAAAAAAACU/fBMUc-sVjAc/s1600/DSC03444.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWTh0izAI/AAAAAAAAACU/fBMUc-sVjAc/s320/DSC03444.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571540213762804738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWTBY5__I/AAAAAAAAACM/_pnUfwt1zTk/s1600/DSC03441.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWTBY5__I/AAAAAAAAACM/_pnUfwt1zTk/s320/DSC03441.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571540205056950258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIK86EgYDI/AAAAAAAAABc/gSCPU97z-YQ/s1600/DSC03440.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIK86EgYDI/AAAAAAAAABc/gSCPU97z-YQ/s320/DSC03440.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571527730507309106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dijual Suzuki Katana Country tahun 1996/SJ410, pajak panjang, warna ungu tua metalik, mesin kering, ac dingin, ban bagus, mulus luar dalam, radio tape, 1000cc, bensin, manual transmision, power steering, kaca film, jok kalep baru, velg racing, ban serep,koil baru, rem sudah pake booster jadi empuk, aki kering rawatan GS Astra, irit, jarang ada, bumper depan model ARB. Harga 48jt. serius hubungi 081310860817.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8952037101091466136-7956177459355947799?l=enangrokajatasura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/7956177459355947799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8952037101091466136&amp;postID=7956177459355947799' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/7956177459355947799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/7956177459355947799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/2011/02/jual-santai-untuk-pemakai.html' title='JUAL SANTAI UNTUK PEMAKAI'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/TVIWUfw9MiI/AAAAAAAAACs/yucP0hB1aIY/s72-c/DSC03446.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136.post-3688409534326122486</id><published>2008-12-03T23:57:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T00:03:00.139-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Materi Iklan : Memprihatinkan...'/><title type='text'>HATI-HATI DENGAN IKLAN</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;MORALITAS IKLAN DAN HAK KONSUMEN&lt;br /&gt;Oleh : ENANG ROKAJAT ASURA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     SEORANG  anak  terpaksa dilarikan ke  Unit  Gawat  Darurat, karena over dosis dalam mengkonsumsi sebuah obat yang  diiklankan sebuah  media  massa komersial. Siapa yang  harus  disalahkan  ?! Produsen  obat,  pembuat iklan  atau media massanya ? Galibnya konsumen selalu jadi objek penderita. Beberapa tahun lalu ketika sebuah makanan kecil diduga mengandung logam berat, yang pertama dirugikan dan kena getahnya juga konsumen. Kemudian ketika muncul kasus dioxin, tak terkecuali konsumen pula yang jadi korban. Hal itu baru yang berhubungan dengan materi. Apabila mau merincinya “korban” dalam arti psikologis akan jauh lebih besar lagi. Pada akhirnya kasus maraknya pornografi dalam sebuah iklanpun, disadari atau tidak justru kerugian sangat besar tetap akan diderita oleh konsumen. Media massa yang memuat iklan tersebut boleh jadi digiring ke pengadilan. Biro iklan penggagas ide iklan tersebut mungkin kena getahnya. Tapi apakah bisa direhabilitasi pengaruh yang terlanjur menempel pada konsumen, dengan menyeret media dan produsennya ke pengadilan ?&lt;br /&gt;      Secara apriori jawaban dari pertanyaan itu memang mana mungkin. Impossible. Mana mungkin  menggugat  produsen,  juga sulit untuk menggugat  pengiklan  dan  media massanya dalam konteks “malapetaka” psikologis ini. Bukan saja mereka begitu profesional dalam menyikapi koridor-koridor yang ada, tapi secara prosedural mereka telah menempuh jalur resmi. Bukankah sebelum iklan dilempar ke pasaran telah mengantongi rekomendasi  Dirjen  POM dan kelayakan tayang dari Lembaga Sensor ? Semakin malanglah nasib konsumen. Mungkin secara berolok-olok akan muncul komentar “kasihan deh lo !”. Betapa tidak kasihan. Bayangkan saja dalam satu kesempetan paling tidak telah “diperkosa” dua kali. Pertama dijejali model iklan yang tidak pantas, dan kedua dipaksa untuk mengeluarkan duit setelah tercekoki demikian seringnya. Dan lebih celaka lagi setelah mengkonsumsi timbul efek negatif dari yang dikonsumsinya itu. Satu-satunya jalan memang mengelak. Tapi konsumen mana yang bisa mengelak dari jejalan iklan pada abad sekarang ini. Hampir semua ruang telah diburu. Radio, televisi, koran, majalah, ruas jalan, bus kota, taxi, restoran, ruang tunggu rumah sakit dan dokter, bioskop, tiket masuk wisata bahkan dalam sajian film layar tancap secara keliling dan pencegatan di depan pasar swalayan. Artinya kalau pun ada pemilahan sosial ekonomi, dengan asumsi adanya perbedaan keluangan waktu untuk terjejali iklan, sepertinya tak ada yang bisa terlepas dari pengaruhnya. Barangkali kalau pada sebuah jam tangan murahan ada ruang untuk beriklan, pemburuan produsen akan sampai juga ke sana.&lt;br /&gt;      Lagi-lagi konsumen dihadapankan pada situasi sulit. Konsumen layaknya seekor buaya gemuk dan setiap membuka mulutnya, ribuan lalat berlomba-lomba untuk jalan-jalan didalam mulut buaya itu. Sepertinya tak ada kesempatan untuk menolak. Buaya itu tak bisa menutup mulut untuk selamanya juga tak bisa memilih dan memilah, lalat mana yang layak dikonsumsi. Kondisi psikologis ini dimanfaatkan benar oleh produsen dan media massa. Produsen senantiasa mengedepankan  efektivitas  komunikasi  diatas   etika komunikasi.  Artinya sejak perencanaan sebelum launching  produk, mereka paham benar dan telah  dihadapkan pada target yang jelas : bagaimana produk yang akan dilempar ke  pasaran  tepat  sasaran. Dasar pikiran ini diasumsikan akan diikuti dengan lakunya produk yang diiklankan. &lt;br /&gt;      Hati-hati. Bahkan  harus ekstra hati-hati mengkonsumsi sesuatu yang hanya tahu dari iklan. Kalau tidak hati-hati salah sendiri, kata nenek lagi. Meningkatkan   self  control,  lebih  bijaksananya.  Karena  untuk mengadukan nasib pada lembaga perlindungan semacam YLKI, selalu capek sendiri. Disamping langkahnya terlalu panjang,  follow up-nya kurang  transparan. Logis kalau kemudian yang lebih memungkinkan dan sering  dipakai mengadu adalah melalui surat pembaca di media massa cetak. Jalannya dianggap lebih pendek. Ketika keluhanya dianggap berguna untuk  umum dan lolos untuk dimuat, sekali lempar beberapa  pihak tertembak  sekaligus,  ya  YLKI, Dirjen   POM  maupun  produsenya langsung. Tapi lagi-lagi konsumen harus selalu jadi objek penderita. Ketidak dewasaan senantiasa mementahkan upaya publikasi  keluhan tersebut.&lt;br /&gt;      Penulis yang sering berurusan dengan pembuatan materi iklan khususnya  untuk disiarkan di radio, senantiasa  dihadapkan  pada pilihan  sulit : tentang ikut campur produsen menentukan  kreatif iklan  untuk produknya. Senantiasa ada visi yang  beda.  Produsen lebih terkonsentrasi pada goal yang diharapkan, media  dihadapkan pada pesan yang dikemasnya. Kejelasan dan menarik menjadi  tujuan sebuah  kreasi iklan. Dari perbedaan visi itulah, sering  kemudian terjadi  saling  tarik kepentingan. Pada kondisi ini ketika tidak ditunjang kedewasaan berpikir dan memiliki tanggung jawab moral,  dalam  proses tersebut sebenarnya sedang "mengorbankan kepentingan konsumen". Artinya kalau saja pihak media yang kalah,  kerancuan kemasan informasi bisa dengan mudah terjadi.&lt;br /&gt;      Pada saat informasi itu rancu, yang paling membahayakan adalah iklan di radio. Ada beda yang sangat prinsipil antara iklan  di  radio dan  media lainnya. Iklan melalui radio menarik dan  juga  rawan. Iklan di radio menarik karena memberikan kesempatan berimajinasi, seperti yang dikemukakan Wynn di dalam “Radio Broadcasting An Introduction to the Sound Medium” karya Robert L. Hilliard. Rangsangan dari imajinasi masing-masing konsumen akan semakin lebih menguntungkan. Karena masing-masing punya kebebasan untuk memberi tafsiran  apapun  tentang iklan yang ditawarkan. Iklan  di  radio rawan,  karena  dengan sifatnya selintas dengar, iklan  di  radio berada pada titik kritis kesalahan tafsir. Maka logis kalau kemudian iklan  radio diproduksi lebih  mengedepankan  efektifitas  komunikasi di atas  etika komunikasi, adalah sebuah kesesatan nyata.   &lt;br /&gt;      Andaikata  yang jadi  kemasan  informasi di radio tersebut  adalah  obat,  betapa mudah kita menggiring seorang korban seperti dalam illustrasi  di atas,  hanya  dengan  kerancuan informasi  atau  ketidakjelasan tentang aturan pakai misalnya. Lebih celaka lagi karena seorang pendengar yang salah menerima informasi, akan salah juga dalam penyebarannya. Bukankah seperti konsep multi step flow of communication dari Schramm, bahwa seorang warga khalayak setelah menerima informasi dari radio umpanya, kemungkinan besar akan kembali meneruskan informasi tersebut ke orang-orang lainnya. Dan orang-orang yang menerima informasi tersebut akan juga menyampaikan ke orang lain. Demikian seterusnya, sehingga bisa dibayangkan jika ada satu kesalahan dalam waktu singkat akan berlipat-lipat kesalahan itu. Lebih celaka lagi karena pendengar radio tidak secara otomatis pembaca dan atau penonton televisi.&lt;br /&gt;Menyertakan kata-kata "Bacalah aturan pakai, jika sakit berlanjut hubungi Dokter" pada setiap iklan obat di radio,  pada satu sisi memang bisa dijadikan warning akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi atau side effect dari obat tersebut. Tapi di sisi lain,  dengan  sifatnya radio yang hanya  selintas dengar,  informasi tambahan  seperti itu hemat penulis justru akan menghadirkan interpretasi baru. Terutama pada brand image  yang akan dibangun, yakni kepercayaan dari calon  konsumen tentang kebenaran kualitas obat yang ditawarkan.&lt;br /&gt;Iklan di radio lebih menarik, memang tidak bisa dipungkiri. Tapi tentu saja "kemenarikan  kreasi" bukan  satu-satunya  arahan bagi para kreator iklan.  Etika  umum masyarakat  pendengar tentu saja yang harus  dikedepankan. Harus masuk kedalam item untuk diperhatikan.  Dalam titik sentuh etika umum inilah, kenapa mayoritas iklan jamu kuat, selalu  banyak dikritik orang. Satu alasan penting adalah  karena imajinasinya menggiring pada pornografi. Dan dimanapun di bentangan  wilayah  nusantara ini, pornografi sesuatu  yang  disepakati sebagai pelanggaran etika umum masyarakat. Bayangkan saja hanya dengan desahan nafas saja, sebuah iklan di radio bisa ditafsirkan macam-macam, dari mulai pikiran kotor sampai seribu satu tafsiran lainnya. Tapi jika hal-hal yang membangkitkan theatre of mind ini tidak diolah, iklan di radio malah tidak punya daya penetrasi yang kuat.&lt;br /&gt;      Bertitik tolak dari masalah etika inilah, sejauh ini masih terasa mengambang. Kalaulah iklan di televisi dan media cetak yang menjurus pornografi banyak disorot, semestinya sorotan itu diarahkan pula pada radio. Memang benar di radio tidak terjadi pamer paha dan dada seperti iklan di media cetak dan televisi, tapi kalaulah kita mau jujur ketidaketisan iklan di radio justru tidak kurang banyak. Tanpa perlu menyebutkan satu persatunya, tapi iklan-iklan yang memberi mimpi, mengeksploitir suara desahan dan tafsiran-tafsiran yang diarahkan pada satu titik yang syur, bukankah bisa dikategorikan sebagai cikal bakal pornografi. Dan kembali ke sifatnya yang selintas dengan dan mampu membangkitkan angan-angan, hemat penulis bahayanya justru tidak kalah besarnya. Menarik memang kalau dicoba diadakan penelitian bagaimana efektivitas sebuah sajian yang menjurus ke pornografi antar bentuk visual dan auditif.&lt;br /&gt;      Iklan  beretika, itulah yang barangkali lebih  komprehensif sebagai  sebuah  karya dengan goal yang  jelas,  tanpa  melupakan tanggung  jawab moral pada keselamatan konsumen.  Iklan  beretika adalah  hasil  keseimbangan  antara  efektifitas  komunikasi  dan  etika komunikasi. Iklan beretika paling tidak harus meramu secara proporsional  antara  berbagai  kepentingan,  yang  mampu  secara kreatif  menjelaskan  kemujaraban,  dosis  pakai,  efek  samping, penanganan  pertama jika terjadi gejala-gejala  umum akibat  dari obat  tersebut dan tentu saja diramu secara kreatif.  Iklan beretika disampaikan  dengan  bahasa  yang  santun, tidak melanggar kesepakatan SARA. Juga tidak vulgar dalam menggiring  imajinasi. Hemat penulis, kalau Persatuan  Perusahaan Periklanan  Indonesia  dengan  jaringanya  yang  terkait,   mampu menghadirkan award untuk iklan terbaik yang sayangnya kategori baik disini adalah lebih dititik beratkan pada kadar kreativitas, selayaknya pula ada  satu lagi  penilaian  yakni iklan paling beretika. Iklim  seperti  ini penting,  agar  etika dalam mempengeruhi massa dengan iklan tidak selalu dianaktirikan.&lt;br /&gt;      Dengan  pertimbangan keselamatan  konsumen  yang  layak  dikedepankan, maka suatu hari nanti kita tidak akan perlu dipusingkan dengan iklan-iklan yang menjurus pada pornografi. Konsumen adalah sebuah asset, paling tidak akan menjadi koridor utama dalam berkreasi agar tidak keblabasan. Dan dari titik pemberangkatan ini, tepat kiranya kalau kita kembali menyadari tentang fungsi media massa yang menurut Harold D. Lasswell paling tidak harus menjalankan fungsi surveillance of the environment (pengamat dan pengawas lingkungan), dan the transmission of the social heritage from one generation to the next (penerus nilai dan norma moral dari satu generasi ke generasi berikutnya). Mudah-mudah kita tidak sempat dan tidak akan pernah lupa.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8952037101091466136-3688409534326122486?l=enangrokajatasura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/3688409534326122486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8952037101091466136&amp;postID=3688409534326122486' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/3688409534326122486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/3688409534326122486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/2008/12/hati-hati-dengan-iklan.html' title='HATI-HATI DENGAN IKLAN'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136.post-7447116729180793958</id><published>2008-12-03T21:56:00.001-08:00</published><updated>2008-12-03T21:58:07.310-08:00</updated><title type='text'>ASMA'UL HUSNA : Ar-Rahmaan</title><content type='html'>Asma’ul Husna :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar – Rahmaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar – Rahmaan adalah salah satu nama Allah yang baik (asma’ul husna), nama tersebut mengandung berbagai makna yang banyak, dapat melingkupi sifat kasih sayang, perasaan iba, kebajikan dan kedermawanan. Berbagai makna ini berarti bahwa Allah dapat senantiasa melimpahkan sifat penyayangNya kepada semua mahluk-Nya di dunia ini tanpa perbedaan, baik kepada manusia beriman pada-Nya maupun pada orang-orang kafir, termasuk pada hewan dan tumbuhan.&lt;br /&gt;Allah Maha Pengasih karena Allah senantiasa mencurahkahkan berkah, rizki, kehidupan dan kemakmuran kepada semua ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;Dalam Al – Qur’an ar – Rahman disebutkan dalam ayat-ayat berikut : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang (al-Fatihah : 1); Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang (al-Fatihah : 3; dan al-Baqarah : 163); Namun, mereka yang ingkar akan Tuhan Yang Rahman! (Ar-Ra’d : 30); Katakanlah, “Serulah Allah, serulah ar – Rahman.” (al-Isra : 110); Aku berlindung kepada (Allah) Yang Maha Pengasih (Maryam : 18); Aku telah bernazar akan berpuasa kepada (Allah) Yang Maha Pengasih. Karena itu aku tidak bicara kepada insan mana pun hari ini (Maryam : 26); Wahai ayahku! Janganlah menyembah setan, karena setan itu durhaka kepada (Allah) Maha Pengasih (Maryam : 44); Wahai ayahku! Sungguh aku khawatir kau akan ditimpa azab dari Tuhan Maha Pengasih sehingga kau menjadi kawan setan (Maryam : 45); Jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih ... (Maryam : 58);  (Mereka masuk) surga-surga Adnin, yang dijanjikan (Allah) Maha Pengasih kepada hamba-Nya (yang percaya kepada) yang gaib. (Maryam : 61); Yang harus membangkang terhadap (Allah) Yang Maha Pengasih. (Maryam : 69).  &lt;br /&gt;Allah Yang Maha Pengasih bahwa kasih sayang merupakan salah satu kebaikan dari Allah. Hal ini dapat kita rasakan mulai dari helaan nafas kita menghirup udara, aktivitas organ tubuh kita bergerak menikmati kehidupan, kesehatan. Semua mahluk mendapatkannya, Allah mencurahkan kasih sayang-Nya tanpa pandang bulu. Kasih sayang Allah itu tidak mungkin dapat dihitung dan tidak ada habis-habisnya untuk kita syukuri.&lt;br /&gt;Kita sebagai seorang muslim yang mu’min, seorang beragama Islam dan beriman kepada Allah, dalam mengsyukuri kasih sayang Allah Yang Maha Pengasih. Hal ini  dapat dilakukan dengan menikmati semua karunia Allah terhadap tubuh dan kehidupan kita secara wajar dan sesuai dengan yang diperkenankan oleh Allah sebagai pencipta-Nya seperti digariskan dalam Qur’an dan Hadits. Menikmati makanan dan minuman yang halal sesuai     kebutuhan, tidak berlebihan. Menjalankan aktivitas tubuh kita semua dilakukan dalam rangka beribadah kepada yang Maha Pengasih, dalam arti belajar, bekerja, istirahat sesuai dengan apa yang diperbolehkan dan tidak melanggar aturan dalam Qur’an dan Hadits dan semuanya ditujukan untuk beribadah. Kalau mampu aktivitas hidup kita itu terus ditingkatkan lagi untuk beibadah terus menerus. Yang semula hanya mengerjakan ibadah yang wajib saja terus ditingkatkan dengan mengerjakan ibadah yang disunnahkan. Hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari besok harus lebih baik lagi dari hari sekarang, agar kita terus mendapatkan limpahan kasih  Yang Maha Pengasih.&lt;br /&gt;Allah Yang Maha Pengasih melimpahkan kasih-Nya kepada semua mahluk tanpa pandang bulu, baik manusia beriman maupun  kafir, baik hewan maupun tumbuhan. Dengan demikian kita sebagai hamba-Nya Yang Maha Kasih harus juga bersikap welas asih terhadap semua mahluk.&lt;br /&gt;Kita bersikap welas asih terhadap sesama yang beriman harus mengasihi dengan membantu memberikan pertolongan semampu kita untuk sama-sama mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama-sama, melalui zakat, infak dan sadaqah. Termasuk sadaqah yang paling mudah dilakukan adalah dengan memberikan senyuman terhadap semua orang yang kita temui, dimana pun pada siapa pun, apalagi pada teman atau yang kita kenal.. Sedang infak dan sadaqah yang lebih memerlukan tindakan yang lebih besar adalah membantu pemulihan masyarakat Aceh pasca bencana tsunami misalnya. Termasuk juga memelihara persaudaraan, berbuat baik pada saudara dan tetangga serta juga rekan kerja. Cepat memecahkan  segala persoalan secara adil dan bijaksana apabila terjadi perbedaan atau pertentangan pendapat dan kepentingan. Serta perbuatan baik lainnya sesuai yang dianjurkan dalam al – Qur’an dan al – Hadits.&lt;br /&gt;Terhadap orang-orang yang tidak seiman dengan keyakinan kita juga tetap harus mengasihi dengan memberikan pertolongan semampu kita apabila mereka tertimpa kemalangan. Misalnya memberikan pertolongan pada korban bencana gempa di Nias. Termasuk juga kita menghormati mereka melaksanakan keyakinan agamanya, dalam arti tidak mengganggu dan menghalang-halangi mereka dalam melaksanakan keyakinan agamanya masing-masing, sejauh mereka juga tidak mengganggu ketentraman ibadah kita.&lt;br /&gt;Selanjutnya kita juga harus bersifat welas asih terhadap mahluk hidup, hewan dan tumbuhan, adalah kita dengan memanfaatkannya secara wajar dan tidak berlebihan dan memenuhi kebutuhan makanan kita, atau kebutuhan kita lainnya. Tidak mengekploitasi alam secara semena-mena. Membantu mengembang biakan  hewan-hewan tertentu. Ya kalau tidak dapat melakukan sendiri dilakukan dengan menghargai dan mendukung orang-orang yang bergerak dalam konservasi kelestarian alam.  Dengan demikian tidak mungkin terjadi penggundulan hutan, musnahnya spiecies mahluk tertentu di muka bumi ini apabila kita bersandar dan berlandasarkan keyakinan kepada Allah Yang Maha Pengasih. (Dari berbagai sumber).***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8952037101091466136-7447116729180793958?l=enangrokajatasura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/7447116729180793958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8952037101091466136&amp;postID=7447116729180793958' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/7447116729180793958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/7447116729180793958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/2008/12/asmaul-husna-ar-rahmaan.html' title='ASMA&apos;UL HUSNA : Ar-Rahmaan'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136.post-8001519081354418709</id><published>2008-12-03T21:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T21:35:57.932-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel baru'/><title type='text'>PEDULI PADA SESAMA HARUS DILATIH</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/STdruRiCbtI/AAAAAAAAAAw/wYioz7v889g/s1600-h/CHILDREN+OF+HEAVEN.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275803931212148434" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 180px; CURSOR: hand; HEIGHT: 285px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/STdruRiCbtI/AAAAAAAAAAw/wYioz7v889g/s320/CHILDREN+OF+HEAVEN.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sebuah Novel yang Menyentuh Nurani&lt;br /&gt;tentang kasih sayang, kejujuran dan kegigihan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangis dan kekesalan Zahra pada Ali, tak mampu mengembalikan sepatunya yang hilang. Meminta sepatu baru, mustahil dilakukan. Ali tak ingin membebani pikiran ayahnya dengan kesulitan baru. Maka, hilangnya sepatu Zahra sengaja ditutup-tutupi dan menjadi rahasia mereka berdua. Begitu pun saat harus bergantian sepatu, keduanya tetap bungkam.&lt;br /&gt;Bergantian memakai satu sepatu, bukan tanpa resiko. Ketika sepatunya kehujanan, dengan berlinang air mata, Zahra tetap memakainya. Ali pun jadi kerap kesiangan. Satu dua kali, bisa menerobos masuk. Lama kelamaan ketahuan juga. Saat diancam tidak boleh masuk kelas sebelum bisa menjelaskan kenapa selalu kesiangan, Ali tetap bungkam. Lebih baik makan tanah daripada harus berkeluh kesah, begitu ia selalu dididik ayahnya.&lt;br /&gt;Ketika Ali bisa sabar, tidak demikian dengan Zahra. Anak cantik ini selalu merengek minta sepatunya yang hilang dikembalikan. Inilah yang membuat Ali sedih sekaligus bingung. Harapan muncul ketika ada lomba maraton tingkat sekolah dasar dengan hadiah ketiga : Sepatu Baru ! Amboi, angan Ali melambung. Dengan hadiah itu, ia bisa menebus rasa bersalahnya dan tak perlu bingung bagaimana mengganti sepatu Zahra. Ketika menjelang masuk finish, Ali berada di urutan paling depan. Demi meraih hadiah ketiga, justru anak kurus ini memperlambat larinya. Barulah setelah terjatuh dan disusul anak lain, sekuat tenaga ia berlari dan berhasil meraih juara pertama. Gembirakah Ali ? Tidak. Ia malah menangis dan menyesal karena gagal mempersembahkan sepatu baru buat Zahra.&lt;br /&gt;Kisah yang sangat menyentuh, penuh teladan dan pelajaran tentang Ali dan Zahra. Di tengah kemiskinan yang mendera, kasih sayang begitu mengkristal. Di tengah keterbatasan dana, prestasi tetap digenggam. Diantara kepapaan : keduanya punya semangat menyayangi sesama, sesuatu yang mulai langka ada  di tengah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8952037101091466136-8001519081354418709?l=enangrokajatasura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/8001519081354418709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8952037101091466136&amp;postID=8001519081354418709' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/8001519081354418709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/8001519081354418709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/2008/12/peduli-pada-sesama-harus-dilatih.html' title='PEDULI PADA SESAMA HARUS DILATIH'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/STdruRiCbtI/AAAAAAAAAAw/wYioz7v889g/s72-c/CHILDREN+OF+HEAVEN.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136.post-3743541874231219878</id><published>2008-12-03T21:15:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T21:23:24.237-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel baru'/><title type='text'>GEMBLAK : Sebuah Novel</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/STdoawiB3GI/AAAAAAAAAAo/xmYItbAnolM/s1600-h/GEMBLAK.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275800297401343074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 203px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/STdoawiB3GI/AAAAAAAAAAo/xmYItbAnolM/s320/GEMBLAK.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; GEMBLAK, jimat dan reyog, adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan warok. Penggemblakan adalah praktik homoseksual yang diterima begitu saja, bahkan diakui, oleh sebuah masyarakat di daerah Jawa Timur sebagai bagian dari tradisi mereka. Tradisi itulah yang kemudian di bawa ke tengah oleh penulis novel ini. Bermula dari himpitan persoalan sosial dan ekonomi, Sapto Linggo, sang tokoh utama, harus merelakan dirinya menjadi ²piaraan” seorang warok sakti dari daerah Maguan. Namun Sapto bukanlah gemblak kebanyakan yang menadah hari esok dengan segala tiba. Ia sadar bahwa takdirnya harus dan bisa diubah, makanya semenjak awal ia berusaha sekolah. Dan memang, kesadaran itu membuahkan hasil, tapi kesadaran itu pula yang membuahkan ara: bayangan dosa dan karma yang tak pernah sirna, hingga ajal datang membawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8952037101091466136-3743541874231219878?l=enangrokajatasura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/3743541874231219878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8952037101091466136&amp;postID=3743541874231219878' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/3743541874231219878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/3743541874231219878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/2008/12/gemblak-sebuah-novel.html' title='GEMBLAK : Sebuah Novel'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/STdoawiB3GI/AAAAAAAAAAo/xmYItbAnolM/s72-c/GEMBLAK.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136.post-2454384408089513358</id><published>2008-12-03T20:48:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T22:04:01.847-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>PELANGI PEREMPUAN TUA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Cerita Pendek : ENANG ROKAJAT ASURA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perempuan tua itu selalu melihat pelangi datang dan pergi. Ia datang setelah hujan reda, dan pergi saat malam menyelimuti. Rutinitas itu selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Orkestra alam itu, dinikmati seperti secangkir kopi pahit bagi perokok berat di awal pagi. Tidak sekedar menghangatkan tenggorokan tapi juga ada sekian banyak makna tanpa harus dilukiskan dengan kata-kata. Bahkan mungkin tak akan ada kata yang bisa tepat mewakili keindahan dan kenikmatan itu.&lt;br /&gt;Seperti juga langit, perempuan tua itu pun memiliki pelangi. Pelangi-pelangi kecil yang dulu lahir dari rahimnya, juga datang dan pergi. Satu demi satu datang, kemudian pergi dan tak pasti kapan akan kembali. Sebuah rutinitas, sunatullah adanya. Tapi kini rutinitas itu terasa lain. Setiap memandang pelangi, maka ia menyediakan ruang untuk bersemayamnya rasa pilu. Entahlah apa karena usianya yang semakin renta sehingga lebih banyak bicara dengan perasaan atau karena memang seperti kebanyakan perempuan tua seperti dirinya yang berubah semakin sensitif dalam menghadapi segala hal. Seperti juga yang dirasakannya kini, simfoni itu terasa semakin sepi, bahkan kadang terasa sebagai tragedi. Tragedi kehidupan yang sebenarnya ia sendiri tak pernah mau menjejakkan pikirannya di sana.&lt;br /&gt;Nelengneng kung nelengneng kung&lt;br /&gt;geura gede geura jangkung&lt;br /&gt;geura sakola ka bandung&lt;br /&gt;ngarah bisa ngabantu indung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Nelengneng kung nelengneng kung&lt;br /&gt;cepatlah besar dan tinggi&lt;br /&gt;agar bisa sekolah ke bandung&lt;br /&gt;agar bisa membantu ibu...)&lt;br /&gt;Dengar ! Ia kini kembali melantunkan lagu lama itu. Dulu, lagu itu seringkali dilantunkan manakala meninabobokan putra-putrinya, dari yang paling sulung sampai yang bontot sama-sama pernah mendengar lagu itu. Indah. Syahdu. Kendati sekarang lagu itu terasa lirih. Ah, ada gesekan angin pada pucuk-pucuk daun bambu, meninggalkan perih pada ulu hati.&lt;br /&gt;Tiga dari anaknya telah berumah tangga dan meninggalkan rumah ini. Lihat, rumah tua yang didominasi batu alam ini juga terasa dingin. Padahal di sini, di taman antara ruang depan dan ruang belakang ini, selalu ramai dipakai putra-putrinya bermain. Pohon jambu di halaman rumah selalu licin karena sekian kali dalam sehari dipanjat putra-putrinya. Rumput gajah di taman dan halaman depan memang tak pernah tumbuh dengan baik selain dicabuti juga tergilas sepeda mini yang selalu hilir mudik. Dulu, di setiap sudut rumah tua ini penuh binar sukacita.&lt;br /&gt;Mata perempuan tua itu tiba-tiba merebak. Ia seperti sedang melihat kembali putra-putrinya bermain di taman. Ia yang duduk di kursi jati di teras belakang sambil menyulam selalu memandangnya dengan senyum.&lt;br /&gt;"Hati-hati jangan sampai menginjak mawar !" katanya serak. Tapi semakin dipandang taman itu semakin kabur dan saat ia mengedipkan matanya, sejurus bayangan itu hilang dan kembali taman itu sepi.&lt;br /&gt;Selain lebaran, tiga putra-putri perempuan tua ini tak pasti kapan akan berkumpul di sini. Bercengkrama seperti saat-saat mereka kecil. Lebaran tahun lalu saja putranya yang sulung malah absen dengan alasan tugas belajar ke luar negeri. Perempuan tua itu malah tak ingin sekedar membayangkan siapa lagi lebaran nanti yang akan absen.&lt;br /&gt;Dulu selalu ada jadwal rutin untuk bersama-sama, paling tidak ketika makan malam sepulang mengaji. Tapi kini di rumah besar ini praktis hanya Wita dan seorang pembantu yang jadi tempat mengadu. Ia selalu merasakan setiap ruangan di rumah ini semakin terasa lengang. Padahal ketika keempat anaknya berkumpul dulu, selalu tergoda untuk memperbesar setiap ruangan yang ada. Bahkan halaman samping dan belakang yang tak terlalu luas, direncanakan pula untuk dibangun sebuah kamar. Tapi itu dulu.&lt;br /&gt;Ketika Wijaksana, lelaki gagah itu meninggal, perempuan tua itu masih bisa berdiri tegak. Kehampaan hidup tanpa suami, berhasil ia sisihkan karena melihat putra-putrinya saat itu masih kecil. Ia bertekad untuk menjadi ibu sekaligus ayah bagi keempat putra-putrinya. Berhasil. Ya, perempuan tua itu memang berhasil, tidak saja membesarkan keempat putra-putrinya, tapi juga membentuknya menjadi manusia-manusia unggul untuk masing-masing lingkungannya.&lt;br /&gt;Selain sepi belakangan perempuan tua itu merasakan ada kekhawatiran yang bertalu-talu di dadanya. Kekhawatiran akan nasib Wita. Seringkali hal ini membuat nafasnya sesak. Tadi pagi ia persis menghitung usia Wita sekarang ini. Bulan depan anak bungsunya itu akan ulang tahun ke-28. Usia kelewat matang buat perempuan dalam tradisi tanah Pasundan. Artinya ia sudah pantas berumah tangga, sudah layak untuk mempersembahkan cucu. Silakan periksa dari ujung kampung Sukawening di utara, sampai ke selatan Tegalsari, berapa orang wanita seusia Wita yang belum menikah. Kekhawatiran itu berubah menjadi gelisah, saat ia ingat kunjungan adik iparnya, haji Ibrahim kemarin petang. Jang haji (begitu ia biasa memanggil) juga mengkhawatirkan Wita yang belum menikah. Coba ceuceu tanya, kata haji Ibrahim sebelum pulang, jangan-jangan Wita pernah menyakiti laki-laki. Dalam keadaan marah dan kecewa, kapan lelaki mah bisa nekat menanamkan penghalang pada anak kita itu.&lt;br /&gt;Wita dihalangi ? Ah, ini juga bagian dari kekhawatiran perempuan tua itu. Tapi masak iya, jodoh dari Gusti Alloh akan terhalang hanya oleh kemarahan seorang manusia ? Bukankah urusan jodoh, pati dan rejeki, Gusti Alloh yang menentukan ?&lt;br /&gt;Berhari-hari perempuan tua itu dininabobokan gelisah, sehingga pada setiap sepertiga malam ia membiarkan wajahnya dijilati dingin air wudlu. Dengan merapatkan baju hangat, ia membiarkan bulat-bulat tubuh dan pikirannya pada kekuasaan Gusti Alloh. Empat puluh hari tanpa berhenti, dan akhirnya membuahkan hasil. Wita dilamar. Kekhawatiran itu tertebus kini. Tapi saat menghitung berapa orang yang akan diundang dalam resepsi bulan depan itu, ia ingat akan pelangi. Pelangi yang selalu datang dan pergi. Perempuan tua itu menunduk dan merasakan sepi menguasai setiap denyut nadinya. Saat Wita pergi dibawa suaminya nanti, praktis hanya ia dan pembantunya yang akan mengisi seluruh ruangan rumah besar ini. Bayangkan sejak membuka mata saat shubuh tiba, sampai mata kembali terpejam, seluruh waktunya hanya akan dipakai mengitari seluruh ruangan dingin ini. Tentu sepi demi sepi yang senantiasa akan aku rangkai, gumamnya pada angin. Betapa tidak bergunanya sebagai perempuan tua, mengisi rumah besar hanya ditemani sepi. Entah kenapa tiba-tiba ia ingat suaminya yang karena penyakit jantung, meninggalkan untuk selama-lamanya. Mungkin, lamunnya, kalau kakang masih ada tak akan didera sepi demi sepi dalam menghabiskan sisa usiaku.&lt;br /&gt;"Biarkan kita sampai pakotrek iteuk, Neng," kata Wijaksana saat duduk berdua di taman sambil menatap putri bungsunya bermain karet.&lt;br /&gt;"Aku tak akan pernah bisa hidup sendiri, Kakang !" keluh perempuan tua itu.&lt;br /&gt;"Ya, seperti juga kakang !"&lt;br /&gt;"Kakang janji tidak akan...."&lt;br /&gt;"Ssst...jangan biarkan bayangan hitam itu mendekat, Neng, biarlah kita menatap langit biru tanpa awan," Wijaksana memegang erat tangan istrinya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja perempuan tua itu merasakan tenggorokannya tersekat. Tubuhnya berguncang kuat. Beruntung pembantunya cepat tanggap memegang kedua tangan perempuan tua itu sehingga tidak membiarkan tubuh juragannya melayang jatuh dari kursi jati itu.&lt;br /&gt;Pada saat diganggu rasa sepi, perempuan tua itu ingin memeluk erat Wita dan menghalau laki-laki yang akan membawanya pergi. Tidak. Wita jangan pergi meninggalkan rumah besar ini. Wita bukan pelangi yang harus datang dan pergi. Ia selalu ingin menjadikan Wita sebagai sebuah boneka, yang tak berdaya pada cengkraman tangan tuanya. Pada Wita, perempuan tua itu ingin membawa kemana ia suka agar tak bertemu dengan sepi. Kalaupun sepi tetap mengganggu, maka ia ingin merasakannya bersama-sama.&lt;br /&gt;"Mang Haji minta undangan kosong lima belas katanya, untuk teman-teman lamanya saat menunaikan haji dulu," Wita membuyarkan lamunan ibunya. Perempuan tua itu memandang nanar anaknya yang tiba-tiba menjelma jadi pelangi. Ya, pelangi yang akan selalu datang dan pergi.&lt;br /&gt;"Kamu tidak boleh pergi, Wita !" sergahnya tiba-tiba.&lt;br /&gt;"Lho, Wita nggak akan kemana-mana. Wita cuma menyampaikan pesan mang haji Ibrahim, Bu !" Wita tak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba bicara seperti itu. Perempuan tua itu tersenyum, menggoyang-goyangkan tangan Wita. Setelah merasa yakin yang berdiri di hadapannya itu Wita, senyum perempuan tua itu semakin lebar dengan binar mata menyala.&lt;br /&gt;"Aku cuma khawatir saja !"&lt;br /&gt;"Ya, Bu ! Wita juga merasakan kekhawatiran ibu. Ibu pasti akan merasa sepi di sini, seperti saat ditinggalkan teh Ida."&lt;br /&gt;"Seorang ibu tak akan pernah terbebas dari rasa khawatir terhadap anak-anaknya sampai kapanpun. Saat kecil khawatir ia sakit, saat besar khawatir anaknya bernasib malang, dan sekarang ibu khawatir kamu meninggalkan rumah ini seperti ketiga kakak-kakakmu." Perempuan tua itu tiba-tiba menunduk menatap kilau lantai keramik warna coklat muda. Terlihat bayangan tubuhnya yang ringkih termakan sepi. Di sana ia menemukan betapa hidup terasa sangat singkat. Ia ingat benar saat Wita dilahirkan, masuk TK, sampai lulus dari sebuah perguruan tinggi. Kini anak yang saat kecil sering terkena demam itu, malah akan segera menikah.&lt;br /&gt;Perempuan tua itu tak pernah bisa menghalau sepi. Bahkan ketika di halaman rumahnya yang luas, telah dibangun tenda, panggung untuk para nayaga degung, sementara di ruang tengah orang hilir mudik dengan pekerjaan masing-masing, justru sepi itu semakin mengkristal. Dulu, ketika kupingnya menangkap lagu dangdut yang diputar kencang-kencang, ia selalu protes. Kupingnya hanya bisa menikmati keroncong atau kecapi suling, tidak lebih dari itu. Tapi perhatikan sekarang ketika seorang pekerja yang membantu di dapur, memutar lagu dangdut dari tape sangat kencang ia malah samasekali tak peduli.&lt;br /&gt;Saat Wita bersanding dengan lelaki pilihannya, perempuan tua itu tak sadarkan diri. Suasanapun menjadi haru biru. Sebagian menyangka karena perempuan tua itu terlalu diliputi rasa bahagia, karena si bungsu telah menikah dan selesailah tugasnya sebagai seorang ibu. Sebagian yang lain mengira karena almarhum suaminya datang untuk menyaksikan putri tercintanya mengakhiri masa lajangnya. Samasekali tak ada yang tahu kalau sebenarnya ia tak bisa mengontrol diri menghadapi rasa sepi di tengah keramaian itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Seperti kekhawatirannya selama ini, Wita diboyong suaminya ke luar kota. Tapi tidak seperti dalam lamunannya, perempuan tua itu samasekali tak bisa menghardik menantunya. Bahkan tidak pula terlintas pikiran betapa enaknya lelaki keparat itu, memboyong anak gadisnya justru ketika ia sudah dewasa dan mandiri pula. Juga ia tak berani untuk protes dan menggugat, apakah lelaki tak tahu diri itu tidak pernah membayangkan, betapa sebagai ibunya ia bersusah payah sejak mengandung sembilan bulan, mengurusnya dengan kasih sayang hingga anak itu genap berusia 28 tahun ? Tidak. Ia tak seberani dalam lamunannya. Justru ketika Wita sungkem minta restu, ia hanya bisa menitikan air mata. Begitu pula ketika menantunya mohon diri, perempuan tua itu mencium kepalanya lalu dengan serak ia bicara :&lt;br /&gt;"Kini giliranmu untuk menjaga Wita. Kamu pasti tak pernah lupa pepatah penghulu kemarin, menjaga Wita dalam sehat dan sakit adalah sebagian dari tanggung jawab yang akan kamu pikul."&lt;br /&gt;"Pasti, Bu. Insyaalloh, saya tak akan pernah melupakan itu. Maafkan saya, karena akan menjauhkan Wita dari dekapan ibu."&lt;br /&gt;Dengar betapa pintar lelaki itu. Perempuan tua itu selayaknya muak dengan kesombongannya. Tapi tidak, ia bahkan merasakan tiba-tiba sulit untuk bernafas. Lagi-lagi ada yang tersekat di tenggorokannya. Entah bahagia atau justru sangsi, karena lelaki yang banyak bicara biasanya tak cakap menjaga kata-katanya.&lt;br /&gt;Tangis perempuan tua itu benar-benar meledak saat Wita tak lagi terlihat dalam jarak dekapnya. Gadis manis itu kini telah menjadi milik orang lain, isaknya. Tentu hanya pada pembantunya ia bicara begitu. Dan dengan lugu, pembantu yang telah sekian lama menemaninya itu mengangguk pelan. Lalu, tangannya refleks memijiti ujung jari kaki juragannya itu. Padahal jelas ia tidak sedang pegal dan tak membutuhkan pijatan.&lt;br /&gt;"Berapa anakmu itu, Jah ?"&lt;br /&gt;"Ah, juragan, rupanya sudah lupa. Anak saya 'kan sembilan, Gan !"&lt;br /&gt;"Sembilan ?"&lt;br /&gt;"Muhun, Gan !"&lt;br /&gt;"Sudah nikah semua ?"&lt;br /&gt;Pembantu setia itu mengernyitkan dahi dengan pertanyaan juragannya yang menurutnya konyol itu. Bukankah pada kesembilan anaknya, juragannya itu sangat hapal ? Ia punya sembilan anak, lima sudah menikah dan seluruhnya tak serumah lagi. Empat sisa anaknya, memang belum menikah tapi tak seorangpun yang serumah. Bahkan yang terkecil, sejak lulus sekolah dasar, ikut bekerja dengan tetangganya di pasar Caringin sebagai kuli pikul.&lt;br /&gt;"Kamu kok nggak ngejawab pertanyaanku, Jah ?!"&lt;br /&gt;"Ya, Gan ! Lima sudah menikah !"&lt;br /&gt;"Lima ? Kamu pernah merasakan sepi ?"&lt;br /&gt;"Sepi ? Apa itu, Gan, saya kok tidak mengerti !"&lt;br /&gt;Perempuan itu terkekeh mendengar jawaban polos pembantunya. Ia membentulkan tusuk kondenya, merapikan rambut putihnya, lalu ia bangkit. Di depan cermin ia mematung, merapikan kebaya brukat warna gading dan kain batik tulis halusnya. Ia beringsut masuk ke kamar dan langsung mencium aroma melati. Sebentar kemudian terdengar ia bersenandung, sebaris langgam Dewi Murni. Sementara pembantunya hanya mematung di tempatnya semula, tak mengerti pada setiap perubahan juragannya, yang dalam pandanganya terlalu tiba-tiba dan mengagetkan itu.&lt;br /&gt;Sampai selepas maghrib, Ijah, tak melihat juragannya keluar dari kamar. Ia sungguh sangat mengkhawatirkannya. Karenanya ketika haji Ibrahim mampir sepulang dari pengajian, begitu saja Ijah bercerita tentang segala perubahan juragannya itu.&lt;br /&gt;"Ia sedang kesepian, Jah !" Haji Ibrahim tak terlalu mengkhawatirkanya. Tapi Ijah tak puas dengan jawaban itu, dan memaksa haji Ibrahim untuk menengoknya.&lt;br /&gt;"Kamu ini kunaon, Jah, kok seperti linglung begitu."&lt;br /&gt;"Pokoknya juragan haji harus melihatnya sekarang !"&lt;br /&gt;Haji Ibrahim mengetuk pintu kamar kakak iparnya itu. Tak terdengar jawaban. Pelan, haji Ibrahim mendorong pintu dan ternyata tidak terkunci. Perempuan tua itu duduk di pinggir tempat tidur jati, berkebaya merah marun, bersanggul dengan tusuk konde emas maskawin dari almarhum suaminya. Iapun mengenakan kain batik halusan. Sejenak haji Ibrahim tertegun. Baru melihat kakak iparnya berdandan istimewa seperti itu.&lt;br /&gt;"Assalamu alaikum !"&lt;br /&gt;"Wa alaikum salam. Oh, Jang Haji ?"&lt;br /&gt;"Ceuceu ini kenapa ? Dan mau kemana ?"&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa Jang Haji ?"&lt;br /&gt;"Kok dandannya seperti itu ?"&lt;br /&gt;"Euceu sedang nunggu pelangi yang selalu datang dan pergi. Tapi sekarang kalau ia datang, euceu harap tak akan pernah pergi lagi."&lt;br /&gt;"Astagfirulloh ! Benar yang saya khawatirkan. Ceuceu ini sedang kesepian ? Kenapa harus kesepian, Ceu ? Bukankah anak kita sesungguhnya bukan anak kita ? "&lt;br /&gt;"Ah, Jang Haji ini...."&lt;br /&gt;"Muhun, Ceu, kan kata orang pinter juga anak kita itu cenah hanya anak-anak jaman. Seperti layaknya anak panah, dan kita adalah busurnya. Tugas kita melemparkan anak panah itu pada tempat yang semestinya." Haji Ibrahim mencoba mengingatkan kakak iparnya itu tentang hakeknya seorang anak seperti kata-kata Khahlil Gibran.&lt;br /&gt;"Anak kita bukan anak kita ? Anak jaman ? Busur ? Maksud Jang Haji ini gimana ?"&lt;br /&gt;"Ya, karena sebenarnya kita hanya ketitipan, Ceu. Apakah ceuceu pernah menentukan kapan ceuceu hamil, kapan ceuceu harus melahirkan, kapan ceuceu menentukan anak-anak harus kawin dan lain sebagainya ...."&lt;br /&gt;"Ya, jelas, tidak atuh Jang Haji !"&lt;br /&gt;"Itulah, Ceu, artinya kita tak pernah memiliki anak-anak kita sekalipun. Kita hanya ketitipan. Beruntunglah kalau kita bisa menjaga barang titipan itu hingga menjadi apa yang seharusnya, tidak menelantarkannya. Bukankah kalau sekarang harus jauh, artinya sebagian dari tugas kita menjaga anak-anak sedikit berkurang. Ya 'kan, Ceu ?" Haji Ibrahim lalu duduk di pinggir kakaknya itu. Pintu kamar dibiarkan terrbuka hingga Ijah yang bersimpuh di ruang tengah bisa melihatnya ke dalam. Lalu ia membacakan ayat al-Qur'an bahwa sesungguhnya anak-anak, harta, istri adalah cobaan yang bisa menggelincirkan keimanan seseorang.&lt;br /&gt;"Tapi apa salah kalau euceu merasa kehilangan Jang Haji ?" tanya perempuan tua itu lirih.&lt;br /&gt;"Tidak ! Ceuceu tidak salah !"&lt;br /&gt;"Apa salah kalau ceuceu merasa sepi ?"&lt;br /&gt;Ditanya seperti itu Haji Ibrahim tidak langsung menjawab. Ia menghitung anak-anaknya, satu demi satu juga meninggalkan dirinya. Istrinya pernah sakit gara-gara kesepian.&lt;br /&gt;"Apa karena mereka ini perempuan terlalu bicara dengan perasaan ?" gumamnya kemudian.&lt;br /&gt;"Apa salah kalau ceuceu merasa sepi ?" ulang perempuan tua itu.&lt;br /&gt;"Tidak, Ceu !" jawab Haji Ibrahim.&lt;br /&gt;"Kalau memang tidak salah, biarkan euceu di sini sendirian, Jang Haji. Euceu ingin merasakan semua ini sendiri," Entah kenapa suaranya tiba-tiba terdengar lirih. Dalam mata tuanya terlihat satu demi satu anak-anaknya datang dan pergi. Seperti pelangi. Perempuan tua itu memejamkan mata. Pelan. Titik air bening berkilau di sudut mata tuanya. Haji Ibrahim mendengus pada angin.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8952037101091466136-2454384408089513358?l=enangrokajatasura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/2454384408089513358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8952037101091466136&amp;postID=2454384408089513358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/2454384408089513358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/2454384408089513358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/2008/12/anak-seribu-pulau.html' title='PELANGI PEREMPUAN TUA'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136.post-2248404930813705772</id><published>2008-08-06T19:46:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T19:50:39.677-07:00</updated><title type='text'>CHILDREN OF HEAVEN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Children of Heaven&lt;/strong&gt;Sebuah Novel yang Menyentuh Nurani tentang kasih sayang, kejujuran dan kegigihan hidup&lt;br /&gt;Tangis dan kekesalan Zahra pada Ali, tak mampu mengembalikan sepatunya yang hilang. Meminta sepatu baru, mustahil dilakukan. Ali tak ingin membebani pikiran ayahnya dengan kesulitan baru. Maka, hilangnya sepatu Zahra sengaja ditutup-tutupi dan menjadi rahasia mereka berdua. Begitu pun saat harus bergantian sepatu, keduanya tetap bungkam. Bergantian memakai satu sepatu, bukan tanpa resiko. Ketika sepatunya kehujanan, dengan berlinang air mata, Zahra tetap memakainya. Ali pun jadi kerap kesiangan. Satu dua kali, bisa menerobos masuk. Lama kelamaan ketahuan juga. Saat diancam tidak boleh masuk kelas sebelum bisa menjelaskan kenapa selalu kesiangan, Ali tetap bungkam. Lebih baik makan tanah daripada harus berkeluh kesah, begitu ia selalu dididik ayahnya. Ketika Ali bisa sabar, tidak demikian dengan Zahra. Anak cantik ini selalu merengek minta sepatunya yang hilang dikembalikan. Inilah yang membuat Ali sedih sekaligus bingung. Harapan muncul ketika ada lomba maraton tingkat sekolah dasar dengan hadiah ketiga : Sepatu Baru ! Amboi, angan Ali melambung. Dengan hadiah itu, ia bisa menebus rasa bersalahnya dan tak perlu bingung bagaimana mengganti sepatu Zahra. Ketika menjelang masuk finish, Ali berada di urutan paling depan. Demi meraih hadiah ketiga, justru anak kurus ini memperlambat larinya. Barulah setelah terjatuh dan disusul anak lain, sekuat tenaga ia berlari dan berhasil meraih juara pertama. Gembirakah Ali ? Tidak. Ia malah menangis dan menyesal karena gagal mempersembahkan sepatu baru buat Zahra. Kisah yang sangat menyentuh, penuh teladan dan pelajaran tentang Ali dan Zahra. Di tengah kemiskinan yang mendera, kasih sayang begitu mengkristal. Di tengah keterbatasan dana, prestasi tetap digenggam. Diantara kepapaan : keduanya punya semangat menyayangi sesama, sesuatu yang mulai langka ada  di tengah kita.&lt;br /&gt;NOVEL INI DITERBITKAN OLEH PUSTAKA IIMAN DAN AKAN TERBIT PERTENGAHAN AGUSTUS 2008. INFO LEBIH LANJUT HUB : (021)7546162&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8952037101091466136-2248404930813705772?l=enangrokajatasura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/2248404930813705772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8952037101091466136&amp;postID=2248404930813705772' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/2248404930813705772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/2248404930813705772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/2008/08/children-of-heaven.html' title='CHILDREN OF HEAVEN'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136.post-5366015958533218440</id><published>2008-07-24T23:38:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T23:39:42.399-07:00</updated><title type='text'>KEAJAIBAN FILM</title><content type='html'>TENTANG HAL-HAL REMEH-TEMEH&lt;br /&gt;Oleh ENANG ROKAJAT ASURA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menonton film, sebenarnya seseorang sedang melibatkan pikiran, perasaan dan imajinasi ke dalam adegan demi adegan. Apa yang terjadi di dalamnya, masuk ke dalam kepala secara leluasa sehingga akhirnya menghadirkan theatre of mind. Dengan sifat yang menarik perhatian dan mencoba memberi informasi berupa simbol-simbol, secara utuh sebuah film merupakan media komunikasi yang efektif. Jika hal ini disadari oleh semua pihak, maka sejatinya film bukan hanya sebuah tontonan tapi semestinya menjadi tuntunan.  Berkomunikasi lewat film, dengan keunggulan sebuah film lewat kekayaan bahasa gambar sudah merupakan bahasa yang kadang jauh lebih jelas dibanding bahasa verbal. Gambar-gambar yang bergerak dari perspektif angle kamera, pembentukan frame gambar dibantu nada cahaya lighting, idealnya serangkaian informasi kepada penonton disuguhkan dengan nikmat dan menarik tanpa terlalu membebani pikiran. Ketika kita melihat almarhum Sophan Sophian yang termenung di antara jajaran patung di Pasar Seni Ancol dalam film Sesal, tanpa dituntun dengan bahasa verbal, kita bisa menangkap perasaan galau Sophian (tokoh Bang Apan) dibantu suasana fisik lingkungan sebagai simbol ”rasa dalam” pelakon.   Merujuk pada teori komunikasi didapat realitas bahwa komunikasi selalu ada yang tersirat dan tersurat atau mentranspormasikan aneka informasi dengan berbagai media (cara). Komunikasi, meminjam pendapat Little John, is the trasmission of information, ideal emotion, skill, etc, by the use of symbol words, picture, figures and graphics. Betapa picture (termasuk didalam rangkaian gambar film) menjadi media komunikasi yang unggul, karena picture (terlebih film) memberikan informasi tiga dimensi dengan detail. Lewat keunggulan film yang memberi informasi tiga dimensi dan gerak inilah, sebenarnya manakala dilatarbelakangi dengan kesadaran penuh yaitu ingin menjadikan film sebagai produk budaya sekaligus ingin menumbuhsuburkan sense of belonging pada produk film kita, upaya-upaya bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dalam adegan-adegan outdoor shooting pada produksi film misalnya, sebenarnya bisa dioptimalkan promosi pariwisata dengan memanfaatkan DTW menjadi background setting cerita. Antara produser film atau sinetron dan penyelenggara DTW sebenarnya bisa terjadi kepentingan bersama dalam produksi sebuah film, promosi bagi penyelenggara DTW dan terbantunya dana bagi produser. Bisa pula dengan memanfaatkan tempat-tempat atau objek yang punya latar sejarah, sehingga dalam saat yang bersamaan tidak saja sedang menyuguhkan frame demi frame yang terjalin dalam rangkaian cerita yang menarik, tapi sebenarnya dalam waktu yang sama sedang meremind latar sejarah yang pernah dipelajari dalam buku-buku teks di sekolah-sekolah. Pada beberapa kasus, memvisualisasikan kejadian sejarah lebih efektif dibanding dalam bentuk bacaan. Bagaimana geliat mahasiswa yang bangkit melihat negerinya yang carut-marut demikian terasa mengkristal dalam adegan Gie. Masih segar dalam ingatan saya ketika itu guru PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) salah satu format yang pernah dicoba untuk menghadirkan sejarah Indonesia secara lebih intens, dalam salah satu materi pertemuan di kelas, mewajibkan kami menonton film Pengkhianatan G30S/PKI arahan Arifin C. Noer. Dengan bekal kegemaran menonton film-film Indonesia terutama garapan sutradara Teguh Karya dan Arifin C. Noer waktu itu, saya ingat benar waktu itu, pasti akan diperoleh nilai lebih ketika menonton film Pengkhianatan G30S/PKI ini, sampai-sampai guru PSPB mewajibkannya. Dua kali antri untuk menonton pertunjukan jam 14.00 di Bandung Theatre, dua kali pula gagal karena kehabisan tiket masuk. Hari ketiga baru dapat tiket dan itu pun untuk pertunjukan jam 19.00. Rupanya mewajibkan menonton film tersebut tidak saja terjadi di SMA Negeri Ujungberung (kini SMA 24 Bandung), tempat saya menimba ilmu waktu itu, tapi juga di sekolah-sekolah lain. Sehingga pemandangan para pelajar menyerbu loket-loket pertunjukan film Pengkhianatan G30S/PKI, menjadi pemandangan yang biasa minggu-minggu saat itu. Pemandangan yang sama seringkali terjadi belakangan ini di era kebangkitan film Indonesia setelah lama mati suri. Tapi masalahnya kendati pemandangan antrian sama, saya tidak bisa memastikan apakah juga menonton film belakangan ini menjadi pengalaman pribadi yang berharga sehingga mengkristal dan menumbuhkan sikap sense of belonging remaja sekarang atau hanya sekedar acara melepas lelah bersama peer groupnya. Kemirisan ini muncul menyaksikan betapa generasi muda sekarang demikian dijejali secara membabi buta oleh film-film hantu yang khawatir hanya sekedar memperhitungkan sisi bisnisnya, bukan bertanggung jawab pada sikap bahwa film adalah produk budaya yang harus dipertanggung jawabkan untuk generasi berikutnya.   Kembali kepada upaya “pemaksaan” guru PSPB agar para siswa menonton film Pengkhianatan G30S/PKI. Saat itu, terutama teman-teman yang tidak suka nonton film Indonesia, saya yakin adanya aturan wajib nonton dari guru PSPB tadi adalah sebuah pemerkosaan hak. Tapi sekarang, manakala pengalaman dan pengetahuan kehidupan makin bertambah, saya merasa phase pemaksaan itu harus dilakukan untuk menumbuhkan sense of belonging terhadap film Indonesia. Kerjasama lintas departemen ini menurut hemat saya, adalah sebuah langkah terpuji untuk bersama-sama membangun film Indonesia sebagai produk budaya. Disadari atau tidak munculnya keseragaman thema film belakangan ini yang tidak jauh berkutat dari thema hantu, adalah sebenarnya tercerabutnya kesadaran para penggiat film untuk menumbuhkan sense of belonging film Indonesia, sehingga akan menjadi produk budaya jamannya.  Padahal dengan selalu membanjirnya anak-anak muda untuk antri menonton film Indonesia, sebenarnya harus muncul kerjasama lintas departemen seperti “pemaksaan” yang pernah dilakukan guru PSPB saya dulu itu. Potensinya sudah ada, kesediaan untuk menonton sudah timbul, tinggal bagaimana menciptakan sebuah film yang layak untuk menjadi rangkaian mata rantai dari sejarah perkembangan film Indonesia. Produk film yang kukuh menjadi mata rantai sejarah bangsa inilah menurut hemat saya yang akan tetap melestarikan perjalanan produksi film itu sendiri. Perjalanan yang tentu saja patut dikenang, bukan sekedar perjalanan memalukan.  Dengan kejelian mata kamera yang dibimbing kekayaan batin dan konsep film sang sutradara yang matang, memberikan informasi objek pariwisata atau rangkaian mata rantai sejarah dan nilai-nilai kehidupan yang tumbuh dan berkembang di bumi yang bernama Indonesia ini, dalam film yang sedang digarapnya bisa lugas dan enak ditonton andai saja pihak-pihak yang bekerjasama dari lintas departemen tadi memberi keleluasaan kepada sutradara dan awak kreatif film untuk membentuk wajah produknya sesuai dengan kehendak cerita. Karena, satu hal paling prinsipil dan harus disadari betul oleh pihak-pihak dari lintas departemen tadi, dimata sutradara suasana fisik berupa pusat keramaian, suasana alam (objek wisata), keindahan seni gerak dan seni diam yang akan dijadikan background pengisi frame gambar adalah baju untuk mengantar alur cerita sekaligus simbol perasaan pelakon. Bagaimanapun indah dan mahal DTW yang hendak dipromosikan pada film misalnya, di mata sutradara nilainya tetap sebagai background semata. Pada beberapa film Indonesia, pemaparan terakhir tadi memang tampil cantik, sehingga tidak saja melahirkan rasa cinta tanah air lewat kekayaan alam sehingga melahirkan sikap rasa memiliki, tapi juga menjadikan film itu sendiri satu mata rantai yang tidak tercerabut dari rangkaian sejarah film Indonesia.  Roman atau cerita dengan setting masa kini memang biasannya longgar, tapi tidak demikian dengan cerita masa lampau misal Saur Sepuh, Gema Kampus ’66, Doea Tanda Mata dan film lain yang punya keeratan dengan masa lampu. Bagaimana dingin dan mencekamnya jam malam pada film Gie, tidak bias digantikan dengan dingin dan mencekamnya malam di tempat manapun. Tapi baik latar objek wisata maupun latar sejarah, akan sama-sama membangkit rasa sense of belonging pada masyarakat kita, manakala rangkaian kejadian itu tadi mampu menumbuhkan rasa penasaran, rasa ingin tahu dan ada kedekatan secara emosional. Manakala phase-phase ini telah terlewati dengan mulus, menurut hemat saya, merupakan langkah cerdas dan tepat guna dalam kaitannya dengan pelestarian film Indonesia. Kendati kurang mutu dari sisi kreativitas cerita, Hantu Terowongan Cassablanca, bagi masyarakat Jakarta tetap saja menjadikan produk itu menumbuhkan rasa penasaran, paling tidak karena kedekatan lokasi terowongan Cassablanca dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta. Tapi tentu saja untuk menjadikan film sebagai produk budaya dan bagian dari mata rantai perjalanan film Indonesia, titik berangkatnya jangan hanya dari titik kedekatan emosional untuk membangkitkan rasa penasaran itu. Sehingga ketika bicara masalah pelestarian film Indonesia pun tidak menjadi sederhana sebatas melestarikan copy film, kemudian disimpan di gedung pusat perfilman misalnya. Tapi ketika bicara masalah pelestarian film Indonesia, maka di dalamnya harus ada upaya menjadikan film-film yang lahir sebagai bagian produk budaya dan bisa dipertanggung jawabkan secara moral kepada generasi berikutnya. Demikian pula ketika ingin membangkitkan sense of  belonging terhadap film Indonesia sehingga masyarakat yang diwakili produk film itu menjadi bertanggung jawab terhadap rangkaian mata rantai film Indonesia, mau tidak mau diperlukan kerjasama lintas departemen, tidak hanya sebatas menemukan bakalan cerita, tapi juga untuk menemukan formula-formula bagaimana menumbuhkan rasa penasaran, menumbuhkan rasa ingin tahu dan turut serta menjadi saksi lahirnya film tersebut seperti dilakukan guru PSPB saya dalam paparan di atas. Upaya yang pernah dilakukan Direktorat  Pembinaan  Film Departeman Penerangan waktu itu yang melahirkan naskah “Kerikil Merah Darah” sebagai juaran untuk pertama untuk kategori drama, naskah “Si Kabayan Dan Putri Jendral” untuk kategori komedi, adalah langkah tepat untuk menemukan naskah cerita film yang memenuhi unsur kepentingan berbagai pihak. Kegiatan yang sama terus dilangsungkan sampai tahun 2000 yang melahirkan naskah “Merahnya Merah” untuk kategori cerita drama dan HAM. Tapi entah apa alasannya, naskah film-film tersebut tidak diproduksi. Padahal dari pendapat dewan juri yang diantaranya para sineas kahot dan pengamat film Indonesia, naskah cerita film tersebut bagus dari beberapa aspek dan tentu saja semestinya layak untuk diproduksi. Dalam rangkaian pencarian upaya pelestarian film Indonesia, tentu saja upaya-upaya pihak diluar produser dan penggagas film seperti itu, harus disambutg secara baik dan bergairah.  Perang  dengan segala aspek dan bentuknya sebagai satu sisi dari peradaban manusia, tak kalah menarik untuk direkam dan dibicarakan seperti halnya cinta. Hanya tentu saja efek psikologis antara perang dan cinta tidaklah sama, kendati pada satu sisi selalu berakses sama : membuat manusia lupa diri. Seorang  (pihak) yang terlibat perang, sering lupa diri bahwa yang dihadapinya untuk dibantai itu manusia  yang notabene punya rasa. Begitupun seorang  yang sedang dilanda mabuk cinta sering lupa diri bahkan tak mampu mengontrol diri sedang kemana kaki melangkah.    Perang dikatakan menarik dan siap direkam, ini jelas. Anak semata wayang pun yang baru tahu hitungan sampai batas sepuluh sudah tahu bagaimana mengatakan perang. Semakin menarik jika yang membicarakan itu manusia yang telah berlevel dewasa (dengan tidak memandang status sosial dan tingkat pendidikan) karena di dalamnya telah paham bagaimana meracik bumbu agar pembicaraanya kian menarik, sehingga obrolan di warung kopi pun semakin menghangat lebih hangat dari segelas kopi yang masih mengepul. Kita bisa membaca bagaimana suasana awal tahun 1991 setelah perang teluk meletus. Dari tukang terasi, pejabat tinggi hingga pengangguran, tukang becak hingga pengusaha, bahkan konglomerat hingga yang melaratpun rasanya belum komplit menu hariannya, jika saja tak dibumbui dengan kecamuk perang teluk. Bagi para sineas lebih istimewa lagi dalam menyiasati perang, baik untuk dibicarakan bahkan untuk direkam ke dalam rangkaian cerita film. Sekalipun tak jarang memerlukan modal dan kerja kreatif yang memang besar. Tapi juntrungnya, perang akan ada apa-apanya setelah dibidani para sineas itu. Terkadang untuk mengejar aksentuasi kesan dan efek psikologisnya, kejadian perang (baik dalam cerita yang utuh ataupun hanya background saja ) terlalu dibesar-besarkan dengan melupakan logika. Kita bisa menyimak Green Barret atau Hell Bridge, dua film Amerika yang terkesan cenderung menjadikan Amerika sebagai hero dalam porsi yang berlebihan. Padahal perang baik sebagai cerita yang utuh maupun hanya sebatas background cerita, tetap tidak akan kehilangan aksentuasinya kendati hanya berkutat pada satu sisi yaitu sisi humanis misalnya. Film dengan latar belakang sejarah yang berhasil menampilkan sisi humanis bisa kita pada film The Killing Field atau Naga Bonar untuk film Indonesia. Dari latar belakang cerita film Naga Bonar, kita paham pada kurun waktu mana cerita ini menggantol. Kurun waktu itu menjadi latar menarik kendati jauh dari kejadian dar-der-dor suasana perang fisik semasa revolusi, karena tetap terintegrasi dengan sisi humanis yang ingin ditampilkan dari sosok mantan copet yang jadi jendral ini. Berbeda dengan Naga Bonar Jadi 2, kendati mencoba mengintegrasikan dengan masa kekinian, tapi dalam beberapa hal kehilangan sisi humanisnya, karena terlalu banyak yang ingin disampaikan.  Kita  pun lantas jadi ingin bertanya–tanya, apa sebenarnya imbasan yang dikejar sebuah film yang diangkat dari kejadian perang atau membuat  background kejadian perang. Ingin mengingatkan manusia pada umumnya bahwa perang itu terlalu menyakitkan untuk dikenang ?  Ingin  mempertegas bahwa perang selalu merugikan banyak pihak sehingga patut dicap sebagai kerja haram yang masih dilegitiminasi dengan dalih mempertahankan kehormatan ?Jika kita mau jujur, bagaimanapun bentuknya perang selalu tidak bisa bersih dari perbuatan licik. Dan ini tak jarang jadi bagian terpenting  dari sebuah strategi. Dan anehnya kelicikan semacam ini jarang sekali diungkapkan dalam film perang. Ada kesan perang dilakukan bersih alias tanpa cacat dimata budaya. Bagaimana The Deer Hunter, Apocalypse Now atau Delta Force 1 yang mengambil latar belakang  antara komunis Rusia dengan tentara Vietnam komunis, lalu memunculkan kekuatan Amerika yang tanpa cacat. Ketika hal ini terjadi, malah menjadi terasa janggal manakala film ini sebagai produk budaya menjadi tidak terpisahkan dari rangkaian sejarah bangsanya. Tokh, kehidupan ini tidak selalu hitam putih. Hidup malah terasa lebih banyak grey areanya. Dan sejarah peradaban manusia telah banyak membuktikannya dengan jelas. Film yang tentu saja telah melalui operasi  penyusuaian, memang cukup efektif membakar semangat patriotisme suatu generasi setelah generasi tua berjibaku antara darah dan darah hingga nafas penghabisan.  Riwayat hidup  Dit Pron  saksi hidup  proses penjagalan  3    juta rakyat Kamboja yang kemudian dibikin film atau sinetron The Killing  Field  yang cukup meraih sukses di pasaran, sedikit banyak akan membakar generasi muda Kamboja. Bagaimana sebenarnya sebuah peperangan terjadi bagi masyarakat Jawa Barat khususnya, umumnya bangsa Indonesia tentu sekalipun baru membaca dari buku–buku paket tentang kepahlawanan  Mohammad Toha seorang pemuda Dayeuh Kolot yang berjibaku menghancurkan     gudang     mesiu,  akan dapat membayangkan bagaimana jiwa patriot anak Dayeuh Kolot itu. Dan tentu kesan itu akan lebih mendalam manakala telah dapat menonton rangkaian ceritanya dipita seluloid arahan sutradara   Usmar Ismail almarhum. Sayang bagi kebanyakan generasi muda tak ada lagi kesempatan untuk  menontonnya jika pihak TVRI  Pusat dan Pusat Dokumentasi  tidak menganggap perlu menayangkan ulang. Tentu saja imbasan psikologis tak akan terasa lagi dari Film Toha Pahlawan Bandung Selatan ini. Padahal lagi-lagi rangkaian cerita dalam film seperti itu yang akan menumbuhkan sense of belonging terhadap film Indonesia, karena paling tidak memenuhi aspek-aspek, sedikitnya aspek menumbuhkan rasa penasaran dan sisi humanis berlatar belakang sejarah di Indonesia. Menayangkan ulang secara kontinyu sebuah film sehingga dapat ditonton oleh lebih banyak lagi masyarakat, salah upaya jempolan untuk melestarikan perjalanan film Indonesia. Langkah ini telah dilakukan belakangan ini manakala televisi swasta saling berlomba untuk menayangkan film-film Indonesia yang sukses di bioskop, kendati dengan motivasi yang berbeda. Janur Kuning arahan Alam Surawijaya almarhum bisa memberi efek yang pekat kepada mentalitas generasi muda. Bagaimana seorang Panglima Angkatan Bersenjata yang bernama Jendral Soedirman masih tetap turut maju ke barisan pertempuran dan melakukan long march kendati harus ditandu. Pada film ini disadari atau tidak ada kesan melambungkan kepahlawan seseorang secara berlebihan. Begitupun dengan November 1928 atau Pahlawan Gua Selarong yang keduanya patut disyukuri bisa ditayangkan TVRI Pusat, akan memberi pengalaman yang baik pada generasi muda dari perjalanan nenek moyangnya itu. Tapi bagaimana dengan film perang yang mengisyaratkan kecacatan-kecacatan di dalamnya semacam Casualties Of War yang cukup gamang merefleksikan kecacatan tentara Amerika yang memperkosa gadis-gadis Vietnam ? Film semacam ini tentu saja akan memberi dampak lain pada penonton. Boleh jadi akan menyulut kebencian orang Vietnam, selanjutnya semakin membenci tentara Amerika. Kasus seperti ini pada gilirannya nanti akan meletuskan perang baru. Kendatipun tidak dalam bentuk perang secara fisik, dengan adu kekuatan militer. Setidaknya akan melanggengkan perang mental dan isme-isme lain. Kita bisa membaca bagaimana sampai kini Kuba masih tetap alergi pada sesuatu yang berbau Amerika, sebagai buntut dan luka Fidel Castro setelah pertikaian frontal April 1961 antara kedua negara tersebut.  ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8952037101091466136-5366015958533218440?l=enangrokajatasura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/5366015958533218440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8952037101091466136&amp;postID=5366015958533218440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/5366015958533218440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/5366015958533218440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/2008/07/keajaiban-film.html' title='KEAJAIBAN FILM'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8952037101091466136.post-5963237155931034906</id><published>2008-04-28T01:35:00.001-07:00</published><updated>2008-04-28T01:40:23.303-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cara Kaya Dengan Menulis'/><title type='text'>Bismillahirrahmanirrahiim</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Assalamualaikum wr.wb.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Banyak ide tapi tak bisa mewujudkannya ? Kenapa tidak anda tulis. Siapapun bisa menulis, tak terkecuali anda. Sepanjang bisa membawa maka sebenarnya punya potensi untuk menulis. Menulis apa saja. Sajak, cerita, skenario, novel, roman bahkan surat cinta. Semua itu bisa anda lakukan asal anda bisa membaca.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Masih bingung juga ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Oke. Saya sudah lama berkecimpung dalam dunia tulis-menulis. Semua jenis tulisan sudah saya buat dan publikasikan, dari mulai naskah iklan, cerita pendek, novel, skenario film, skenario drama, laporan-laporan. Sejumlah buku sudah diterbitkan beberapa penerbit. Di sini kita bisa berbagi. Tidak ada tujuan lain selain saya ingin membagi pengetahuan karena saya ingin makin pinter. Tanpa mengamalkan ilmu, satu pintu untuk jadi makin pinter telah tertutup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Oke. Saya tunggu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8952037101091466136-5963237155931034906?l=enangrokajatasura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/feeds/5963237155931034906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8952037101091466136&amp;postID=5963237155931034906' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/5963237155931034906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8952037101091466136/posts/default/5963237155931034906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://enangrokajatasura.blogspot.com/2008/04/bismillahirrahmanirrahiim.html' title='Bismillahirrahmanirrahiim'/><author><name>enangrokajatasura</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07412517413425265586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_265LSHH5uJE/SJplgzTqa6I/AAAAAAAAAAc/3T5Ae6gcm5Q/s1600-R/foto1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
